Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Potret sosial. Tampilkan semua postingan

PURWAKARTA - Pembangunan infrastruktur jalan memang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta sebagai program prioritas. Hal ini dibuktikan dengan persentase pembangunan jalan yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Indikator infrastruktur jalan mantap selalu dijadikan target oleh Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kabupaten Purwakarta.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, terdapat trend kenaikan signifikan pembangunan jalan mantap semenjak kepemimpinan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dimulai pada Tahun 2008.

Di Tahun pertama pria yang kerap disapa Kang Dedi ini dinobatkan sebagai Bupati pertama yang dipilih langsung oleh rakyat, Purwakarta memiliki persentase ruas jalan mantap sebesar 62,2% atau sepanjang 447 KM dari total panjang 720,5 KM.

Jumlah ini meningkat pesat pada tahun-tahun selanjutnya yakni 68,7% pada Tahun 2009, 71,2% pada Tahun 2010, 71,4% pada Tahun 2011 dan 74,6% pada Tahun 2012.

Memasuki periode kedua masa jabatannya, budayawan Sunda dengan tagline pembangunan "Mageuhkeun Jalan ka Cai, Nyaangan Poèkna Peuting" atau dalam bahasa Indonesia "Penguatan Jalan menuju Air dan Menerangi Gelapnya Malam" (Program membangun jalan dan Listrik Gratis) ini semakin gandrung membelanjakan APBD Purwakarta yang terbilang kecil ini untuk pembangunan infrastruktur.

Terhitung sejak Tahun 2013, jalan mantap di Purwakarta meningkat menjadi 76,5%, Tahun 2014 menjadi 78,7%, Tahun 2015 menjadi 80,5%, Tahun 2016 menjadi 85,2% dan proyeksi Tahun 2017 menjadi 86%.

"Sisanya jalan yang masih berkerikil sedang kami kerjakan," kata Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Purwakarta, Pramuji Nugroho, saat ditemui hari ini Jum'at (10/2) di ruang kerjanya di Jalan Purnawarman Barat Purwakarta.

Hingga berita ini ditulis, fokus Dinas yang menjadi leading sector pembangunan jalan tersebut masih berupaya menyelesaikan Jalan Lingkar Barat Sukasari - Maniis, perbatasan Purwakarta - Cianjur dan Jalan Lingkar Timur Bungursari - Wanayasa.

Selain itu, Jalan Kemuning - Jalan KK Singawinata, Tjeplak pun diharapkan selesai tahun ini dan menjadi jalur alternatif saat terjadi kemacetan di Jalan Sudirman dan Jalan Veteran, dalam Kota.

"Kalau ini selesai, maka total lebih dari 90% jalan di Purwakarta, semuanya mantap," tandasnya.

Dengan tambahan ruas Jalan Sukasari - Maniis, Bungursari - Wanayasa dan Jalan Kemuning - Jalan KK Singawinata ini, maka total ruas jalan di Purwakarta bertambah dari hanya 720,5 KM menjadi lebih dari 740 KM.(Hms/Bim)

Rumah Mak Endeng Dan Keluarga
KARAWANG - Di rumah berukuran tiga kali empat meter, Mak endeng (70 tahun), warga rawa badak karawang, jawa barat ini, tinggal dan mengisi hari-harinya bersama keluarga. rumah yang lebih tepat di sebut gubuk beralaskan tanah ini hanya berdinding dan beratapkan terpal seadanya yang di penuhi lubang. kucuran keringat di kala terik matahari ketika berada di dalam gubuk sudah ia rasakan Setiap Harinya.

Di dalam gubuk ini hanya terdapat satu ruangan yang di gunakan untuk semua keperluan, jangankan untuk istirahat, untuk kenyamanan tinggal pun jauh dari kata layak. Bahkan untuk mandi, memasak dan minum, air selokanpun kerap ia gunakan.

“ rasa pusing, sesak dan gatal-gatal, saya dan keluarga sering banget ngerasain akibat konsumsi air selokan” Ujar Mak Endeng.

Mak Endeng Dan Keluarga
Mak endeng, beserta dua anak dan dua cucuknya sudah tinggal di gubuk selama empat bulan terakhir. gubuk yang berdiri di atas kebun milik seorang warga ini, “saya sewa 500 ribu pertahun. kami memilih tinggal di gubuk ini dulunya nunggak dan tidak mampu mambayar biaya kontrakkan” katanyakepada Potretkarawang.com,Rabu (19/10/16).

Aktifitas Mak Endeng Di Rumah
Adapun mak ending, mampu bertahan hidup dari upah jadi kuli cuci tetangga yang tak seberapa, penghasilanya pun untuk keperluan sehari hari. Dan itu jauh dari kekurangan, apalagi mak ending memilik cucu yang mengalami sakit.

“ terkadang satu hari saya mendapatkan uang dari hasil cuci baju tetangga, Cuma dua puluh ribu. Itu pun cukup Buat beli beras” Terangnya.


Hingga kini tak sepeser pun bantuan yang di dapat dari pihak pemerintah. kartu indonesia sehat dan kartu indonesia sejahtera pun tak pernah ia miliki. Ia dan keluarga hanya bisa berharap agar pemerintah dan para dermawan mau mengulurkan tangan untuk membantuya dan keluarga. (Bim)
Diberdayakan oleh Blogger.